BERJUANG BERSAMA KASBI ADALAH KEHORMATAN

Kami pasukan rakyat merdeka,
senjatanya massa rakyat pekerja
Dengan diskusi dan aksi massa.
Kita siap melawan.
Selamat siang kawan – kawan Pekerja/buruh…
Cucuran keringat dan aliran darah kita adalah sebuah bukti, bahwa hidup akan terus bergerak, bahwa hidup butuh perjuangan.
Kawan – kawan pekerja/buruh…
Yang selalu gigih dalam perjuangan, kita berteriak dari bibir kelam dan keringnya tenggorokan, kulihat matahari siang ini telah membakar telapak kakimu, dan menyengat ubun – ubun, serta menggores wajah pucatmu.
Sekelebat waktu…
Aku menyaksikan semangat dan kemurkaanmu, jutaan rakyat jelata mengasah harapan dengan kepalan tangan, sebab kata – kata selalu kalah diatas meja perundingan serta retorika dipertontonkan, dan ribuan istilah dan alasan akan membuat mulut gagap terkunci.
Maka saat itulah…
Kaki berderap merayap menghantam barikade kepongahan penguasa, jutaan rakyat jelata turun ke jalan, bak rayap – rayap yang siap menggerogoti kursi empuk dengan perlahan tapi pasti.
Hai…
Apa kabar kelas pekerja/buruh…
Kenapa pundakmu miring sebelah?
Kenapa punggungmu terlihat bongkok?
Kenapa saat bersalaman telapak dan jari tanganmu kasar dan kapalan?
Kenapa sewaktu berbaris jalanmu terpincang – pincang?
Ah…
Kau jawab itu sudah biasa, itulah resiko di tempat kerja sebagai buruh, agar pengusaha maju dan untung besar meski upah tak sebanding dengan kebutuhan hidup, sebab negara gagal mensejahterakan rakyat.
Hai…
Apa kabar kelas Pekerja/buruh…
Diantara ribuan rakyat jelata di depan istana negara, mendengar dan menyimak yang disampaikan orator menggelora. Banyak buruh menghitung jam kerja atas keringat yang tercucur berbanding upah, ada petani mengira-ngira padinya menguning diatas tanah juragan, ada nelayan takut ikannya berpindah samudra, sebab perahunya tersengat mahalnya harga solar, ada terlihat anak buruh miskin mengeja mahalnya biaya sekolah, ada tukang asongan berlomba naikan harga, sebab mengira hari ini pestanya kaum buruh dan ada juga tukang sapu berharap berkah dari sampah.
Tak terasa, matahari telah jatuh tenggelam, meski bendera masih melambai perlahan, hari ini kita sudahi dulu teriakan kita kawan, besok hari kita lanjut lagi dengan energy baru.
Semoga tuntutan kita yang di dengar oleh penguasa, dan juga setumpuk tuntutan kita yang ditaruh di meja dalam istana, agar esok jadi topik perbincangan tamu negara yang hingga akhirnya mereka bersepakat untuk penuhi tuntutan perbaikan kesejahteraan rakyat.
Namun jika akhirnya mereka hanya bikin sandiwara belaka, maka jangan salahkan rakyat jelata akan berbaris memanggul senjata untuk selamatkan bangsa tercinta.
Mari kawan…
Sejenak bernyanyi bersama pasukan rakyat merdeka, sekedar melepas lelah, letih, otot dan otak kita sembari menunggu hujan mereda.
Sebab esok hari dan hari-hari esok adalah milik kita.
Kerja ekonomi,
Kerja sosial,
Kerja politik, dan
Kerja Ideologi.
Ingat kawan…
Perjuangan belum berakhir.
KASBI
Muda Berani MilitanKami pasukan rakyat merdeka, senjatanya massa rakyat pekerja Dengan diskusi dan aksi massa. Kita siap melawan. Selamat siang kawan – kawan Pekerja/buruh… Cucuran keringat dan aliran darah kita adalah sebuah bukti, bahwa hidup akan terus bergerak, bahwa hidup butuh perjuangan. Kawan – kawan pekerja/buruh… Yang selalu gigih dalam perjuangan, kita berteriak dari bibir kelam dan keringnya tenggorokan, kulihat matahari siang ini telah membakar telapak kakimu, dan menyengat ubun – ubun, serta menggores wajah pucatmu. Sekelebat waktu… Aku menyaksikan semangat dan kemurkaanmu, jutaan rakyat jelata mengasah harapan dengan kepalan tangan, sebab kata – kata selalu kalah diatas meja perundingan serta retorika dipertontonkan, dan ribuan istilah dan alasan akan membuat mulut gagap terkunci. Maka saat itulah… Kaki berderap merayap menghantam barikade kepongahan penguasa, jutaan rakyat jelata turun ke jalan, bak rayap – rayap yang siap menggerogoti kursi empuk dengan perlahan tapi pasti. Hai… Apa kabar kelas pekerja/buruh… Kenapa pundakmu miring sebelah? Kenapa punggungmu terlihat bongkok? Kenapa saat bersalaman telapak dan jari tanganmu kasar dan kapalan? Kenapa sewaktu berbaris jalanmu terpincang – pincang? Ah… Kau jawab itu sudah biasa, itulah resiko di tempat kerja sebagai buruh, agar pengusaha maju dan untung besar meski upah tak sebanding dengan kebutuhan hidup, sebab negara gagal mensejahterakan rakyat. Hai… Apa kabar kelas Pekerja/buruh… Diantara ribuan rakyat jelata di depan istana negara, mendengar dan menyimak yang disampaikan orator menggelora. Banyak buruh menghitung jam kerja atas keringat yang tercucur berbanding upah, ada petani mengira-ngira padinya menguning diatas tanah juragan, ada nelayan takut ikannya berpindah samudra, sebab perahunya tersengat mahalnya harga solar, ada terlihat anak buruh miskin mengeja mahalnya biaya sekolah, ada tukang asongan berlomba naikan harga, sebab mengira hari ini pestanya kaum buruh dan ada juga tukang sapu berharap berkah dari sampah. Tak terasa, matahari telah jatuh tenggelam, meski bendera masih melambai perlahan, hari ini kita sudahi dulu teriakan kita kawan, besok hari kita lanjut lagi dengan energy baru. Semoga tuntutan kita yang di dengar oleh penguasa, dan juga setumpuk tuntutan kita yang ditaruh di meja dalam istana, agar esok jadi topik perbincangan tamu negara yang hingga akhirnya mereka bersepakat untuk penuhi tuntutan perbaikan kesejahteraan rakyat. Namun jika akhirnya mereka hanya bikin sandiwara belaka, maka jangan salahkan rakyat jelata akan berbaris memanggul senjata untuk selamatkan bangsa tercinta. Mari kawan… Sejenak bernyanyi bersama pasukan rakyat merdeka, sekedar melepas lelah, letih, otot dan otak kita sembari menunggu hujan mereda. Sebab esok hari dan hari-hari esok adalah milik kita. Kerja ekonomi, Kerja sosial, Kerja politik, dan Kerja Ideologi. Ingat kawan… Perjuangan belum berakhir. KASBI Muda Berani Militan (OmJack)