KASBI AJAK SEMUA ELEMEN MASYARAKAT BERJUANG BERSAMA GAGALKAN OMNIBUSLAW

Sejarah Meminta Kita Bersatu
Jakarta,7 Juli 2020, Dunia sedang dalam kondisi yang buruk, amat sangat buruk. Memasuki awal bulan Juli, lebih dari 11 juta orang dari berbagai negeri terpapar Covid-19. Di atas setengah juta orang meninggal dunia. Jumlah kematian ini setara empat kali korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Ini adalah tragedi memilukan. Di saat petinggi-petinggi negara belum lama berceramah tentang Revolusi 4.0, sembari CEO-CEO mempresentasikan dunia masa depan dengan Artificial Intelligence sebagai tuas utamanya, sesaat kemudian ketidakbecusan mereka terekspos telanjang, ketika wabah penyakit menyerang publik. Satu-persatu kepala negara terlihat tidak kompeten, satu per satu negara mengirim kabar buruk, dengan beberapa minoritas pengecualian yang mengabarkan cerita sukses penanganan pandemi.
Kapitalisme yang sebelumnya telah mengalami krisis besar, dibuat pucat pasi dan menggigil hebat diserang pandemi. Tubuh ekonomi dunia rusak. Sendi-sendi industri putus. Tulang punggungnya retak. Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akan merosot hingga minus 5,2 persen. OECD lebih jauh lagi menyebut angka minus 7 persen. Angka pengangguran meledak dimana-dimana. Hingga bulan Mei, Amerika Serikat telah menanggung 33,3 juta pengangguran. Di bulan yang sama Inggris mencatat lonjakan angka pertambahan pengangguran hingga 69%. Di jepang 200 perusahaan rontok dan jatuh dalam jurang kebangkrutan. Dunia terjerumus dalam krisis yang sangat dalam. Sebuah krisis kapitalisme yang disebut-sebut setidaknya setara dengan Depresi Besar 1929.
Kondisi serupa juga terjadi di tanah air. Angka pertambahan penularan harian Covid-19 terus mencetak rekor hampir tiap minggu. Sekarang angka penambahan harian kasus baru selalu di atas 1000. Secara umum grafik pandemi di dalam negeri belum menunjukkan tren melandai apalagi turun. Bersanding dengan ini gonjangan ekonomi terjadi. Sebelum pandemi mengamuk, angka pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan kelesuan, tidak pernah melebihi 5 persen. Defisit neraca perdangangan berjalan rutin, tekanan hebat terhadap APBN berlangsung konstan, lebih-lebih dengan volume hutang luar negeri yang terus membengkak. Pandemi menyempurnakan semua kejatuhan ekonomi, ke level baru: sebuah kerusakan akut. Mega kerusakan yang membuat kita mulai membayangkan episode terburuk kehidupan rakyat setelah krisis 1998.
Dampak krisis ini telah memberikan pukulan berat kepada rakyat. Angka pertumbuhan ekonomi diprediksi berada di kisaran 0 persen. Setidaknya 3,05 juta orang telah mengalami PHK dan dirumahkan, ribuan usaha kecil kolaps, potensi penambahan 5,23 juta pengangguran baru dan jutaan mahasiswa mengalami persoalan biaya kuliah. Bersamaan dengan kondisi buruk ini pemerintah dan parlemen menggeber pengesahan Omnibus Law. Ketegangan sosial terakumulasi terus-menerus setiap hari, di kampung-kampung, di pabrik-pabrik, di ladang-persawahan dan seluruh lorong pemukiman orang-orang miskin. Ledakan kemarahan rakyat sepertinya hanya semata soal waktu belaka.
Di tengah ilalang kering kehidupan rakyat yang terus dijemur oleh penderitaan dan pemiskinan ini, gerakan rakyat nyatanya masih terpisah dengan skala kekuatan yang kecil. Aliansi-aliansi terbangun dan berserak di berbagai kota. Kekuatan buruh menyatukan diri dalam kerjasama untuk melakukan penolakan Omnibus Law. Lapisan pemuda dan mahasiswa merapikan diri, menolak beban biaya perkuliahan yang memberatkan. Di beberapa kota persatuan ini mempertemukan kaum muda dan lapisan buruh dalam satu wadah. Namun satu hal yang tak terbantahkan, wadah-wadah itu masih berserak. Tak ada pertalian yang luas untuk dapat menjawab tantangan krisis!
Sejarah telah memanggil kita, persis ketika dunia sedang sakit parah dan Ibu Pertiwi meronta-ronta dalam balutan derita. Perubahan tidak datang dari serakan jemari yang kurus dan sedikit, melainkan melalui kepalan jutaan tangan yang mengikatkan diri dalam persatuan. Sekalilagi, sejarah memanggilmu, adakah kita akan mememuhi panggilannya?